Hari ini, hari Sabtu tanggal 23 Oktober 2010.
Hari dimana, semua anak SMADA Magelang sedang H2C alias harap-harap cemas. Karena sebuah ritual yang telah berlangsung sejak nenek moyang mereka akan dilaksanakan. Suasana disekitar sekolah akan menegang, tepatnya disetiap kelas. Sudah menjadi rahasia umum dan bukan hal tabu lagi tentang kabar-kabar yang tak sedap tentang ritual yang sudah berlangsung turun temurun ini. Ritual ini menjadi ajang dimana siswa atau murid kelihatan bersinar atau kurang bersinar. Mereka yang bersinar pasti akan pulang dengan senyum 12x5 cm (naudzubillah, ini mulut apa barongan?), meneteng tas dengan ringannya, melangkah dengan riang dan langsung pulang menuju rumahnya. Sungguh sangat pahit dan kontras dengan mereka yang kurang bersinar, akan menekuk muka mereka seperti origami, langkahnya berat seperti dipasang pasung beberupa 100 Pepi yang semua anak SMADA tau kalau badannya melebihi gajah bengkak sekalipun dan Pepi ini dipasungkan dikakinya, kemudian sang tumbal yang sudah mengerti akan nasip selanjutnya akan merencanakan akal bulus untuk memanipulasi apa yang mereka dapat dari ritual ini. Sehingga hanya dia, gurunya dan Alloh yang tau. Ritual ini memerlukan beberapa syarat, antara lain sebagai berikut; adanya pemimpin yang akan memimpin jalannya ritual disetiap kelas, yang sering dipanggil WALI KELAS. Kemudian, akan ada korban yang menjadi dalam ritual ini, yang dinamakan MURID atau SISWA. Selanjutnya adanya momentum, adanya pemimpin yang bisa menerima aspirasi dari rakyatnya. STOP! Kenapa jadi syarat terjadinya revolusi? O iya? Kembali ke tulisan aku yang nggak jelas. Syarat selanjutnya merupakan pelengkap adanya ritual ini, yaitu berupa selembar kertas yang sudah diprint out oleh sang pemimpin ritual, WALI KELAS. Sang pemimpin ritual akan membagikan secarik kertas itu dengan komat-kamit mengucapkan mantra yang terbukti ampuh untuk membuat para tumbal, menjadi was-was, keracuanan, ketakutan, kesurupan, kerasukan dan horny (ini emang gurunya ngasih wejangan sambil striptease atau bacain cerita bokep seh?). Mantra itu berbunyi seperti ini, “Kamu harus lebih giat belajar, jangan mengeluh, dan lain-lain”. Ritual ini berlangsung sekitar 30 menit sampai 1 jam waktu bagian SMADA. Sebagai keringanan untuk tumbal-tumbal, para pemimpin ritual juga memberlakukan pulang lebih awal. Setelah itu, kita juga bisa membaca kondisi dari para tumbal apakah mereka bersinar wmaupun kurang bersinar. Disinilah kita dituntut untuk bersifat detektif. Sebagai contoh, bila mereka membiarkan kita melihat hasil ritual, dapat disimpulkan bila tumbal itu telah selamat dari ritual ini. Namun, jika mereka melarang dan memberi kutukan kepada orang yang ingin melihat hasil ritual itu, dapat dikatakan pula bahwa mereka itulah tumbal sebenarnya dari ritual ini. Ritual ini hanya dilakasanakan setelah berlangsungnya musim-musim berikut; musim wedewsusahbanyakulanganbanyaktugas, musim ahmidsemestermenantididepanmata, musim aduhakuremidibanyak, musim lesbelajarlesbelajarcapekdeh, musim semesteranakubelumbelajarsehinggamempunyamototempatdudukmenentukanprestasiajadeh. Demikianlah macam-macam musim sebelum diadakannya ritual ini. Dan ritual ini mempunyai nama lain yang sangat akrab ditelinga kita, namanya tidak lain tidak bukan adalah PEMBAGIAN RAPOT.
Oleh Sandy Gilang Pradana aka Pyu aka Pepi aka Ndud aka Pangeran Beruang yang paling ganteng tiada tanding tiada banding.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)




0 komentar:
Poskan Komentar